Masyarakat dan Ekonomi Dualistik
"Cursing a flat tire does not fix it". Ungkapan
asing itu menggambarkan situasi kita sekarang. Kita mengumpat karena situasinya
memrihatinkan, sekalipun umpatan itu tidak akan langsung mengoreksi keadaan.
Lacurnya, kita malahan saling melempar dan mengalamatkan umpatan kepada pihak
lain yang kita anggap bersalah: dari pemimpin besar sampai orang biasa, dari
lapisan atas sampai lapisan bawah, dengan latar belakang berbeda-beda. Ada
sikap memonopoli kebenaran pada siapa pun yang berkomentar. Kritik-kritik oleh
individu ataupun kelompok yang berlebihan mengganggu ketenangan batin lawan
politik atau bahkan mereka yang bersikap netral, tetapi yang menginginkan
suasana damai. Seiring dengan itu, parlemen jalanan marak dimana-mana. Tidak terlalu jelasarahnya .Apakah fenomena ini berpengaruh
terhadap perkembangan ekonomi dan politik? Yang pasti, fenomena itu
mencerminkan tidak mulusnya keadaan di dua bidang itu. Bahwa budaya masyarakat
berpengaruh terhadap perkembangan sosial, ekonomi dan politik, tentu sudah kita
sadari. Topik itulah yang dicoba dikupas sekitar 50 orang dari Yayasan
Paramadina dan Ormas Nasional Demokrat dua minggu lalu. 'Menunggaling' Pemimpin Rakyat Sesuai rumusan Pancasila yang
penjabarannya tertuang dalam UUD'45, idealnya yang berkuasa/pemimpin dan rakyat
saling menghormati dan berempati. Bila itu dapat diwujudkan, terjadilah
'manunggaling' pemimpn-rakyat - menyatunya para pemimpin dan rakyat. Itu yang
diangankan kaum muda intelektual ketika menggagas pembangunan bangsa dan negara
Indonesia dari telapak penjajahan, 65 tahun yang lalu. Tentu tidak gampang,
Jauh sebelum proklamasi kemerdekaan, mereka mengadakan perenungan lama untuk
menghasilkan falsafah negara setelah merasakan denyut nadi dan menelusuri
akar-akar budaya bangsa ini. Mereka sadari bahwa di zaman purba telah banyak
masuk agama dan budaya asing yang dibawa para pedagang luar yang datang ke
wilayah ini. Mereka menyebarkan ajaran-ajaran yang selama ratusan tahun diserap
budaya dan adat istiadat penduduk. Hinduisme, misalnya, antara lain membawa
sistem kasta yang membuat kelompok kalangan yang memiliki privelese (golongan
Brahmana dan Kesatria) dan yang ditakdirkan melayani (golongan Waisya: petani,
pedagang, tukang); serta golongan Sudra yang hina-dina. Apakah fakta itu yang
kemudian ikut mendorong tumbuhnya feodalisme sampai sekarang? Mungkin itu pula alasannya
mengapa sekarang yang memiliki privelese (30%) merasa nyaman dan tidak
terganggu melihat yang kurang beruntung (70%). Ketimpangan ini dianggap lumrah,
sekalipun sebenarnya bertentangan dengan azas demokrasi. Di Jakarta, misalnya,
masyarakat sudah biasa melihat bangunan-bangunan kumuh dan yang mewah saling
berdampingan atau saling membelakangi. Kontras itu kelihatan mencolok ketika
disorot kamera film asing seperti yang tampil dalam film tua"Livingdangerously",dibintangi MelGibson. Agama dan budaya Islam dengan system jemaahnya (kebersamaan), datang jauh kemudian
melewati Sumatra Utara, sekitar abad 13. Pengislaman Indonesia berlangsung
tanpa penolakan yang berarti karena budaya Islam pandai menyesuaikan diri
dengan adat kebiasaan setempat. Alhasil, bagi masyarakat yang belum kuat
pengaruh Hindunya bisa lebih mudah menyerap budaya Islam daripada masyarakat
yang sudah lama meresapi Hinduisme. Sampai sekarang kita masih bisa melacak
sisa-sisa pengaruh-pengaruh asing tersebut. Itu antara lain juga tercermin pada
jenis profesi dan sikap serta kebiasaan hidup sehari-hari. Terbukti bahwa
menghadapi desakan budaya dan agama Islam, agama Hindu/Buda kemudian tidak
menyumbangkan banyak peranan dalam budaya baru yang tumbuh dan berkembang di
zaman Madya, kecuali yang sudah menjadi darah-daging akar budaya. Itulah situasinya sebelum modernisasi bergulir ke Indonesia dengan datangnya orang Barat (Portugis)diawalabad16.
Dualisme ekonomi
Prof. Dr. Mohammad Sadli (1922-2008) lebih dari setengah
abad lalu (1957) mengulas teori J. H. Boeke tentang dualisme ekonomi. Ulasan
itu ditampilkan kembali oleh ekonom tamatan Berkeley, Prof. Dr. Bruce
Glassburner' dalam buku "The Economy of Indonesia" (2007). J.H.
Boeke, ahli ekonomi Belanda (lahir 1884) meragukan dapat diterapkannya
teori-teori ekonomi Barat di Indonesia (1910) karena negeri ini menjalankan dua
sistem ekonomi yang berbeda dan sama kuat. Yang pertama sistem
pra-kapitalistik, dijalankan oleh masyarakat tradisional (analog golongan
Waisya), yang sekarang merupakan mayoritas penduduk. Yang kedua dijalankan oleh
yang telah dipengarughi sistem kapitalistik (sosialistik/komunistik) akibat
pengaruhBarat. Mereka ini kalanga nyang sekarang memiliki privelese (dapat kita analogikan dengan golongan Brahmana dan Kesatria).
Prof. Sadli dalam esainya bertanya, apakah dualisme ini
tidak mungkin dicegah dan akan menjadi gejala permanen? Untuk menjawabnya,
perlu diteliti bagaimana hasil-hasil interaksi antara dua masyarakat yang
menjalankan dua sistem yang saling berbenturan itu. Boeke antara lain
mengatakan, nilai-nilai dalam sistem kapitalistik bersifat
rasional,individualistik, dengan kebutuhan tidak terbatas oleh subyek ekonomi.
Sebaliknya masyarakat pra-kapitalistik tidak/kurang memiliki spirit kompetisi
ataupun spirit mengambil keuntungan, Motif ekonomi diabaikan. Dualisme
sosial-ekonomi, kata Boeke selanjutnya, akan luas akibatnya terhadap
masalah-masalah pembangunan. Pandangannya tersebut sangat pesimistis untuk usaha
modernisasi dan peningkatan taraf hidup masyarakat."Saya tidak akan
mengusulkan rencana-rencana." katanya. "Tetapi saya ingin menegaskan
perlunya mengadakan 'restorasi pedesaan'.yang harus dilakukan dengan cara-cara
lebih demokratis. Pemimpin-pemimpin baru harus tumbuh dari kalangan mereka dan
harus disertai rasa tanggungjawab sosial yang kuat di kalangan masyarakat
sendiri." Bagaimana caranya? Boeke tidak menjelaskan,tetapi: "Pelaksanaannya jangan secara besar-besaran dan jangan
tergesa-gesa, maka tujuan akhir akan tercapai dengan keyakinan, sikap sosial, dan kesabaran luar biasa."